Minggu, 21 Oktober 2018

Makna keris pusaka luk 5 berdhapur Bakung


(foto by Yanto)

Keris diatas adalah salah satu dari beberapa keris pusaka berluk 5, warisan turun temurun yang ada dalam pemeliharaan penulis, estimasi pembuatannya adalah awal abad 19 atau sebelumnya, merupakan sebuah keris bergaya Melayu Palembang, dapat dilihat dari bentuk sampir warangkanya/sarungnya, hulu atau gagangnya terbuat dari kayu dengan ukiran yang rumit, detail dan indah, terkategori sebagai desain hulu burung.

Bilahnya terkategori berdhapur/tipe Bakung, berluk 5, dengan pamor tirto tumetes atau air yang menetes;

Luk 5 merupakan keris simbolik penanda keningratan sebagaimana yang telah penulis bahas dalam artikel sebelumnya;

Makna dan filosofi dari bilah dan pamor :

Dapur bakung adalah mengambil nama dari sebuah tanaman bunga, yaitu bunga bakung, bunga bakung merupakan bagian dari genus lilium atau yang dalam bahasa Inggris disebut Lily. Dalam berbagai peradaban dunia, bunga lily memiliki makna masing-masing, misalnya dalam adat pernikahan Yunani Kuno, mempelai wanita mengenakan mahkota bunga lily dan gandum sebagai perlambang kemurnian dan kelimpahan, dalam peradaban mesir kuno, bunga lily dimaknai sebagai perlambang kesuburan dan kelahiran kembali, dalam budaya Tiongkok, bunga lily dilambangkan sebagai pesona keberuntungan, didalam peradaban India kuno, lily dikaitkan dengan upacara kematian, yaitu dianggap sebagai lambang kesucian yang dipercaya oleh mereka sebagai pemutus karma untuk mengembalikan kesucian orang-orang yang telah meninggal.

Di Nusantara, bunga Bakung atau Crinum Asiaticum, merupakan tanaman liar yang mudah dijumpai ditempat-tempat seperti pinggiran sungai, danau, hutan, sampai di ladang, ditempat-tempat subur dan teduh tersebutlah Bunga Bakung tumbuh dengan baik, pada zaman dahulu tanaman ini digunakan sebagai pertanda untuk membaca tanda-tanda alam kaitannya dengan aktivitas pertanian (ilmu titen pranata mangsa), bagi petani di jawa pada jaman dahulu, walau musim penghujan sudah tiba, akan tetapi bunga bakung belum berbunga, mereka biasanya belum akan memulai menanam sampai menunggu Bakung berbunga, demikian sekilas perihal bunga bakung;

Dalam khazanah perkerisan, Dhapur Bakung dimaknai sebagai lambang dari ketangguhan atau kekuatan seorang laki-laki untuk bertahan dalam situasi apapun, kenapa demikian? oleh karena umbi tanaman bakung akan senantiasa mengalami masa dorman yaitu seolah-olah mati dalam tanah, tetapi suatu saat akan tumbuh kembali  dan memunculkan bunga-bunga yang indah dimanapun tempatnya, bunga bakung juga disimbolkan sebagai lambang kebanggaan karena bunganya berbentuk terompet atau bintang;
(disarikan dari beberapa artikel pada griyokulo.com)

adapun makna pamor tirto tumetes atau air yang mengalir/menetes adalah melambangkan harapan atau doa dari sang empu maupun pemegang keris kepada Tuhan yang Maha Esa, agar selalu diberkahi kelimpahan karunia, berkah, rezeki yang tiada terputus dari Sang Pencipta, untuk itu makna dari pamor tersebut adalah mengajak atau selalu mengingatkan untuk terus menerus tidak berputus asa, berusaha dan berdoa untuk memperoleh rahmat karunia Tuhan, yaitu Allah SWT, yang memiliki karunia yang besar dan tiada terputus kepada umat manusia, demikian kira-kira pemaknaannya.

Diatas dikatakan, keris ini adalah keris Palembang, kira-kira apa yang dapat digali dari keris ini tentang keterkaitan sejarah, politik, budaya, geneologis dan lain sebagainya, antara Palembang dan Belitung pada masa lalu? khususnya pada era pemerintahan Kedepatian Cakraningrat Belitung? Hal tersebut akan penulis bahas dalam artikel khusus dilain waktu, tetap semangat, salam budaya!

Peran pusaka bagi kekuasaan para raja atau penguasa di Nusantara tempo dulu

Kedudukan benda-benda pusaka dalam sistem kekuasaan tradisional Nusantara jaman dahulu, memiliki peranan sentral, pusaka adalah lambang Legitimasi dari Penguasa atas kekuasaannya, hal senada sebagaimana disinggung para Sarjana kita, diantaranya sebagai berikut :
"sebagai penguasa, Sultan didampingi oleh benda-benda pusaka (regalia) yang berfungsi untuk mendukung kekuasaan raja. Pusaka juga berfungsi sebagai tanda pemberian mandat kepada pembawa atau penerimanya untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya, biasanya seorang raja akan mengumpulkan pusaka di keraton. benda-benda pusaka biasanya berupa keris, tombak atau bendera yang dikeramatkan (Selo Soemardjan 1962; 17-18 ; Moeldjanto dalam Antlov dkk, 2001 : xxi)

Dengan demikian keberadaan benda-benda pusaka ini sangat penting, sehingga timbul kepercayaan pada penguasa-penguasa jaman dahulu, hilang pusaka berarti hilang pula kekuasaan. Hal ini dapat tergambar dari salah satu fragmen sejarah di Kesultanan Palembang, yaitu saat terjadi perang antara Kesultanan Palembang dengan Inggris pada tahun 1812, Sultan Mahmud Badaruddin II yang mengalami kekalahan dalam perang waktu itu, beliau memerintahkan untuk mengamankan semua pusaka Kerajaan ke Pedalaman, tempat persembunyian beliau dan pengikutnya (ke daerah Belida), berpindahnya pusaka kerajaan berarti berpindah pula kekuasaan, hal ini menunjukkan kesiapan Sultan Mahmud Badaruddin II untuk melanjutkan perjuangan di daerah Uluan (Hulu). Pusaka Kesultanan Palembang itu berupa Keris, Pedang hulu kencana, tombak, tunggul tulis perada, tunggul payung (payung kerajaan), bedil seri padah, cap stempel Sultan Mahmud Badaruddin II (woelders1975; 91, 130, 184, Syair perang)


(Farida R. Wargadalem, Kesultanan Palembang dalam pusaran konflik 1804-1825, 2017, hal 13)


Dari sekian macam pusaka, yang terutama adalah Keris, mengapa Keris, karena keris adalah suatu benda ungkapan atau benda simbolik, yang didalamnya penuh dengan rincian-rincian simbol yang mewakili makna-makna atau maksud tertentu, secara morfologis, dilihat dari garis besar tipe atau dapur keris, itu juga mewakili makna-makna tertentu yang saling berbeda antara satu dengan tipe keris yang lain, dari jumlah lekukan atau Luk keris, itu juga mewakili makna-makna tertentu, begitupun pula ciri-ciri kecil atau ornamen pada bilah keris (disebut ricikan keris) juga mewakili makna tertentu. Masyarakat Nusantara pada jaman dahulu mengerti bahasa-bahasa Simbolik seperti ini. Jadi oleh karena keris merupakan benda simbolik, maka akan lebih mudah digunakan sebagai pusaka penanda kekuasaan atau dengan kata lain Keris dijadikan benda yang memiliki dimensi atau fungsi politik pada masa lalu, sebagaimana yang diterangkan Selo Soemardjan diatas, Pusaka juga berfungsi sebagai tanda pemberian mandat kepada pembawa atau penerimanya untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya, Keris seringkali dijadikan tanda pemberian mandat tersebut dari seorang Raja kepada penguasa-penguasa bawahannya;


Jadi keris bisa dianalogikan sebagai SK atau Surat Keputusan dari seorang raja atau penguasa, kepada penguasa bawahannya, sebagai bentuk mandat ataupun pendelegasian sebuah kewenangan atau kekuasaan tertentu kepada yang menerimanya. Alam pikiran peradaban Barat dan Timur memang berbeda, apabila alam pemikiran barat lebih cenderung lugas, logis, real/nyata, misalnya pada jaman dahulu, tanda pendelegasian kekuasaan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda kepada bawahannya seumpama Residen dll, maka tanda pendelegasiannya adalah Surat Keputusan atau Besluit, sedangkan alam pemikiran timur masyarakat Nusantara jaman dahulu, lebih menekankan pada sisi rasa, simbolic, abstrak, sebagaimana yang telah dijelaskan;


Kaitannya dengan Keris, sebagai Contoh, keris ber luk 5, dalam khazanah budaya perkerisan jaman dahulu dikatakan bahwa keris-keris berluk 5 hanya dimiliki oleh raja, pangeran dan keluarga raja serta para bangsawan, selain mereka tidak ada orang lain yang boleh memiliki atau menyimpan keris ber luk 5. Demikian aturan yang berlaku di masyarakat perkerisan jaman dahulu, keris-keris berluk 5 hanya boleh dimiliki oleh orang-orang keturunan dan bangsawan kerabat kerajaan, memiliki kemapanan sosial dan menjadi pemimpin masyarakat, dengan kata lain keris ber luk 5 adalah merupakan keris keningratan (cek di http://www.kerispusakajawa.com/2017/04/keris-luk-lima.html);


Berdasarkan paragraf diatas, dengan demikian keris juga berfungsi sebagai simbol status sosial dalam kemasyarakatan tempo dulu, dan oleh karena keris  luk 5 dikatakan sebagai keris simbol keningratan, maka ia sekaligus juga berfungsi sebagai penanda kekuasaan politik pada waktu itu, dikarenakan sistem kekuasaan di Nusantara kala itu masih menganut Sistem Kerajaan;

Salah satu dari beberapa warisan pusaka keris berluk 5 yang ada dalam pemeliharaan penulis;



(gagang/hulu memiliki ukiran yang rumit dan indah)
(bilah yang tengah)
foto by Yanto


Adapun mengenai deskripsi lebih jauh mengenai keris diatas, akan penulis uraikan dalam artikel tersendiri, demikian, salam budaya;

Sabtu, 20 Oktober 2018

Foto-foto lawas Mesjid Jamek Tanjungpandan



Diatas adalah foto-foto Djadoel dari Mesjid Jamek Tanjongpandan, atau yang sekarang dinamakan Mesjid Agung Al-Mabrur.

Foto-foto diatas, sayangnya tidak jelas diambil tahun berapa, tapi untuk foto yang paling atas adalah diambil dari masa yang lebih terkemudian, sekitar tahun 1990an penulis masih ingat bentuk Mesjid Jamek kurang lebih masih sama seperti foto paling atas tersebut.

Didalam buku Gedenboek, disebutkan bahwa Mesjid Jamek didirikan tahun 1870. Didirikannya adalah pada era Pemerintahan Depati Kiagus Muhammad Saleh selaku Depati Belitung (Depati Cakradiningrat 9), beliau adalah Depati Belitung terakhir yang menjabat menggantikan mendiang Kakanda beliau yaitu Depati Rahad, yaitu sejak tahun 1854 sampai dengan tahun 1873, tahun 1873 dikarenakan sudah merasa uzur usianya, Depati Muhammad Saleh mengundurkan diri dari Jabatan Depati, pengunduran diri beliau ini menandai berakhirnya Pemerintahan Kedepatian Belitong, yang sudah bertahan lebih kurang dua setengah abad di Pulau Belitung, yaitu sejak Medio abad 17 di Balok.

Depati Kiagus Muhammad Saleh meninggal di Tanjungpandan pada tahun 1876, dimakamkan cukup jauh dari Tanjungpandan, yaitu di Desa Cerucuk, yaitu di Komplek Pemakaman Situs "kota" Tanah, persis di tepian sungai Cerucuk dekat LAPAS Tanjungpandan saat ini, beliau dimakamkan didekat makam ayah beliau yaitu Kiagus Hatam (Depati Cakradiningrat ke 7, meninggal tahun 1815), Pada tanggal 15 Januari 1876, dalam keadaan sakit keras menjelang wafatnya, Depati Kiagus Muhammad Saleh masih sempat membuat Surat Wasiat atau Testament dihadapan Pejabat Notaris di Tanjungpandan kala itu yaitu Mr. Willem Verderk Karrel, salinan dokumen alhamdulillah masih terpelihara sampai kini, demikian.

Suasana di Jl. Depati Rahad tempoe doeloe


Rumah dalam foto diatas berlokasi di Jalan Depati Rahad, kelurahan Kota, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, tepatnya di RT 07 RW 09. Foto diambil sekitar tahun 1950an.

Adalah Rumah Kiagus Muhammad Said (Alm), yaitu Ramonda-nya/ayah dari Kiagus Bustami (Alm), yang di era tahun 70an pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tk II Belitung. Beliau adalah cicit dari Kiagus Muhammad Saleh (Depati Cakradiningrat 9). Rumah ini sekarang sudah tiada, letak tepatnya sekarang kira-kira persis disamping Toko Iwan Cis, yang banyak menjual tanaman hias Bonsai di serambi toko dan rumahnya, berhadapan/diseberang Mesjid Jamik Al-Mabrur Tanjungpandan (Foto ini masih tersimpan dirumah Bang Iwan dan Rumah Mak Sot, yang letaknya berdekatan).

Menurut penuturan Mak Sot, yaitu anak dari Kiagus Bustami (Alm), dari hasil wawancara penulis, beliau menceritakan bahwa rumah orang tuanya tersebut terakhir berdiri sekitar awal tahun 1960an, kemudian karena sudah uzur termakan usia, rumah tersebut dirubuhkan, diganti dengan bangunan baru, yang mengadopsi model lebih kekinian kala itu. 

Rumah panggung model diatas adalah rumah terakhir yang berdiri dan masih sempat terdokumentasikan, sebelumnya dari penuturan tetua-tetua dikampung Rahad, jaman dulu rumah-rumah di Jalan Rahad (dulu dijaman Belanda disebut Gang Depati) kebanyakan menganut model rumah panggung tinggi yang kurang lebih serupa dengan rumah dalam foto tersebut.

Kampung Rahad pada jaman dahulu dikenal dengan sebutan kampong Raje oleh masyarakat Belitung, namun tetua-tetua kampung Rahad lebih familiar dengan sebutan Kampung Ume, dalam berbagai informasi sejarah yang tercatat, diantaranya dari catatan diary para eksplorer Timah diketahuilah, yang bermukim awal di wilayah tersebut adalah Kiagus Muhammad Saleh atau Depati Cakradiningrat ke 9 (Depati Belitong terakhir, meninggal pada tahun 1876 bermakam di Cerucuk, komplek pemakaman "kota" tanah) beserta keluarga dan pengikutnya, yaitu dikatakan pemukimannya berada ditepian Air Beruta', Air Beruta' adalah Sungai kecil yang sampai sekarang masih mengalir persis di sebelah Bank BPR Syariah Babel, Jl. Jend Sudirman. Adapun Kakanda dari Kiagus Muhammad Saleh yaitu Kiagus Rahad atau Depati Cakradiningrat ke 8 (meninggal 1854 bermakam di Air Labu Kembiri) bermukim berapa Kilometer dari Kampung Ume ini, yaitu diarah ke Jalan Bukit di sekitaran Bukit Kecil yang dahulu terletak Hotel Dian (dijaman Belanda diatas bukit terdapat Benteng Kuehn).

Kembali ke model rumah panggung diatas, oleh para pemerhati Budaya Belitong dikatakan bahwa Rumah Panggung dengan model yang cukup tinggi tersebut adalah model rumah Bangsawan atau Ningrat Belitung pada masa lalu, yaitu anak tangganya lebih dari tiga, sedangkan rumah panggung tradisional masyarakat pada umumnya, anak tangganya maksimal tiga.

Pada tahun 2009, Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung, di zaman Bupati Ir. Darmansyah Husein meresmikan Rumah Panggung dengan mengambil model rumah Panggung Tradisional ala Bangsawan Belitong Tempo dulu sebagaimana diatas, yang kemudian oleh Pemerintah Daerah dijadikan ikon Rumah "adat" Belitung. Letaknya di Jalan A. Yani Tanjungpandan, bersebelahan persis dengan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Belitung. Sekian.


Jumat, 19 Oktober 2018

Menelisik lebih jauh Keris Panjang Belitung

Didalam artikel yang saya tulis hampir setahun yang lalu, yaitu tentang koleksi Keris Penyalang di Musium Tanjungpandan saya sempat menyinggung akan adanya kemungkinan Keris Made in Belitung pada masa lalu, yaitu menyitir dari kutipan Paragraf pada Ensiklopedia Keris karangan Bambang Harsrinuksmo.

Waktu berjalan, sampai pada akhirnya dari diskusi dengan sahabat Wahyu Kurniawan, didapati informasi sejarah yang mengkonfirmasi dugaan akan pernah adanya pembuatan keris pada masa lalu di Belitung, yaitu dari Tulisan Cornelis De Groot yang merupakan salah seorang pioneer penambangan timah Biliton Maatschaapij, yang menyebutkan bahwa orang Belitung (blitongees) juga memiliki keris panjang sebagai senjata mereka, yaitu bilahnya berkisar 44cm.
Senada dengan yang diutarakan oleh Bambang Harsrinuksmo diatas, Keris Penyalang atau Keris Bangkinang karena kepopulerannya pada masa lalu, kemudian "ditiru" oleh pembuat keris di Bangka dan Belitung dengan ukuran yang lebih pendek dari keris serupa yang dibuat di Bangkinang.

Ukuran Panjang dan Pendek memang relatif, jika Bambang Harsrinuksmo menyebut lebih pendek, itu karena perbandingannya adalah keris penyalang (bahasan tersebut ia singgung dalam artikel keris penyalang dalam ensiklopedia-nya), yang notabene bilah keris Penyalang rata-rata adalah 50an cm, sedangkan Corn De Groot diatas mengatakan panjang oleh karena ia membandingkan dengan keris-keris Jawa yang lebih dulu dikenalnya, yang notabene memiliki bilah rata-rata 35cm (De Groot sebelum bertugas di Belitung, lama bertugas di Surabaya dan seputaran Jawa Timur)

Diatas saya memberi tanda petik pada kata "ditiru", karena kesannya adalah seperti Plagiat, ada sedikit keterangan yang dapat memberi gambaran soal ini, yaitu dari catatan John Francais Loudon, selaku kepala Tim Eksplorer perusahaan Penambangan Timah di Belitung, ia didalam diary-nya ternyata juga menyinggung sedikit soal Keris di Belitung, yaitu semasa di Belitung ia memiliki sebuah keris panjang yang diberi oleh seorang bernama Ince/Encik Umar, keris tersebut menurut Loudon adalah buatan Encik Umar sendiri, diterangkannya pula bahwa Encik Umar adalah seorang perantauan dari Lingga. Nah, Lingga disini tak lain adalah sebuah pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Riau, yang pada masa lalu pernah menjadi Ibukota Kesultanan Melayu Johor, yaitu di Daek Lingga. Jadi kembali kepada frasa meniru tadi, maka sebenarnya Keris Penyalang yang dibuat di Belitung ini adalah pada awalnya dibuat oleh perantauan dari tempat asal keris tersebut, yaitu Riau dan Kepulauan Riau, yang dianggap sebagai Homebase nya pembuatan Keris model Penyalang atau Bangkinang ini.

Lantas apakah Keris Panjang Belitung yang mengadopsi model Keris Bangkinang atau Penyalang tsb memiliki kekhasan tersendiri dibanding keris-keris model serupa yang tersebar diseantero tanah melayu?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas perlu untuk kita ketahui bahwa keris Bangkinang atau Penyalang, persebaran atau pembuatannya hampir tersebar diseluruh tanah Melayu, yaitu pesisir Sumatera, Semenanjung Malaya, Kepulauan di Selat Melaka dan pesisir utara dan Barat Kalimantan. Ada sedikit variasi soal panjang pendeknya bilah, jika bilahnya diatas 40cm ia dianggap keris Penyalang, walaupun kebanyakan Keris Penyalang apalagi yang dibuat di Bangkinang bilahnya rata-rata 50-an cm, dikatakan Penyalang adalah karena Keris tsb dipergunakan untuk aktifitas menyalang atau mengeksekusi narapidana pada masa lalu, sebagaimana yang telah saya bahas pada artikel terdahulu, selanjutnya apabila keris serupa memiliki bilah dibawah 40cm sampai minimal 30cm maka disebut keris alang atau yang lebih populer pada masa lalu disebut keris bahari, karena banyak dipakai oleh para pelaut melayu, apabila bilahnya dibawah 30cm maka disebut keris anak alang.

Keris Penyalang, Alang/Bahari dan Anak Alang, pada dasarnya memiliki karakteristik bilah yang serupa, yaitu berdapur lurus atau luk satu, memiliki gandik yang polos, memakai grenengan yang khas yaitu dari bagian ganja sampai naik sedikit ke bagian sor-soran, dibagian sor-sorannya seringkali terdapat pijetan, bilahnya polos saja tanpa bagian ada-ada dan lis-lisan. Keris Penyalang kebanyakan tidak berpamor atau istilahnya kelengan saja, akan tetapi bilahnya kebanyakan tetap dibuat dengan sistem tempa lipat, bahkan ada yang tempa lipatnya sangat rapat dan banyak, atau yang disebut bilah hurap, sebagaimana keris-keris kelengan kuno di Jawa. Sandangan atau pakaian keris Penyalang kebanyakan adalah memakai warangka bahari atau sampir bahari yang bentuknya seperti bulan sabit atau kalau dijawa disebut dengan warangka Wulan Tumanggal (pertama kali sampir model wulan tumanggal ini diperkenalkan pada era Kesultanan Demak), akan tetapi banyak juga saya temui keris-keris bahari dan anak alang yang menggunakan warangka khas daerah tertentu, misalnya model Palembang, model minangkabau, atau model melayu Semenanjung.

Kembali pada pertanyaan diatas? Apakah yang dibuat di Belitung khas? Sepanjang pengamatan saya 99 persen bentuk maupun ricikan bilah kerisnya adalah sama dengan keris penyalang, bahari maupun anak alang, dari sandangannya pun relatif sama, namun cenderung lebih polos dari berbagai ukiran pada hulu atau gagangnya, tidak seperti keris-keris serupa yang dibuat didaerah lain (yang cenderung memiliki ukiran-ukiran). Mungkin perbedaan yang lebih ditekankan sebagaimana yang disinggung didalam Ensiklopedia Keris adalah soal ukuran panjang bilah yang menurut Bambang Harsrinuksmo sedikit lebih pendek dibanding buatan Bangkinang, hal yang sama juga banyak berlaku diwilayah Melayu lain yang bahkan membuat keris ini dengan bilah yang lebih pendek lagi (keris Bahari dan anak alang).

Singkat kata saya berkesimpulan Keris model penyalang yang dibuat di Belitung tidak memiliki kekhasan tertentu dibanding keris-keris sejenis yang dibuat diwilayah lain, mungkin juga timbul pertanyaan apakah keris model ini dipergunakan untuk aktivitas menyalang pada masa lalu di Belitung? Saya belum menemukan satupun catatan sejarah bahkan sekedar folklore yang menceritakan pernah dilakukannya aktifitas menyalang dengan keris model begini, didalam catatan Corn De Groot disebutkan bahwa keris panjang ini seringkali dipergunakan orang Belitung saat menghadiri acara pesta, jadi menurut hemat saya keris panjang ini lebih digunakan sebagai ageman atau kelangkapan berpakaian orang Belitung pada masa lalu (cara memakai keris panjang adalah cukup dipegang saja, belum pernah saya melihat orang melayu menyelipkan keris penyalang dipinggang atau diperut, terkecuali keris bahari atau anak alang serta keris-keris melayu pada umumnya, yang notabene berukuran "standard" keris), namun selain sebagai ageman, oleh karena pada dasarnya bilah keris ini adalah bilah senjata tajam maka tentunya keris memiliki "sisi" fungsional sebagai senjata.

overall, apapun itu, dari pembahasan keris panjang Belitung, kita patut bersyukur bahwa ternyata Belitung dimasa lalu mengenal budaya perkerisan, yaitu hasil influence dari para perantauan melayu khususnya dari Kepulauan Riau (yang kemudian membaur menjadi penduduk Belitong), sepatutnya fakta yang terungkap ini menjadi kajian yang lebih mendalam, untuk pelestarian atau lebih tepatnya menghidupkan kembali budaya perkerisan, khususnya Keris Panjang Belitung, semoga!!!

Salam Budaya.

Berikut foto-foto keris panjang yang menjadi Koleksi TropenMuseum Belanda





Sabtu, 04 November 2017

Koleksi Keris Penyalang di Museum Tanjungpandan

Foto dari Kiri-kanan (yang dibaringkan) ; nomor 1 dan 2 adalah jenis keris Penyalang (foto by Yanto)

Keris Penyalang adalah keris yang bilahnya berbentuk lebih ramping dan lebih panjang dari keris pada umumnya, jika keris "standard" bilahnya berukuran panjang antara 30-40cm, maka keris penyalang bilahnya berkisar lebih kurang 50cm, bahkan ada yang sampai 60cm, bilah keris penyalang pada umumnya adalah bilah dhapur keris lurus ("tanpa luk"/luk satu), sebagian penggemar keris menyebut keris penyalang ini dengan sebutan keris Bangkinang, karena pada zaman dulu keris penyalang ini banyak dibuat di daerah Bangkinang, Riau (60 Km dari Pekanbaru);

Didalam Ensiklopedia Keris yang ditulis Bambang Harsrinuksmo, pada halaman 88, disebutkan bahwa Keris Bangkinang/Penyalang populer di era pertengahan abad 16 sampai akhir abad 19, karena kepopulerannya lalu keris ini ditiru oleh para pembuat keris di Bangka, Belitung dan Kampar, namun bentuknya sedikit lebih pendek dari yang buatan Bangkinang asli, yaitu bilahnya berkisar 42-45 cm (dari paragraf di Ensiklopedi keris ini, setidaknya menunjukkan indikasi bahwa pada masa silam terdapat pande keris di Bangka Belitung, sesuatu yang mengejutkan karena saat ini boleh dikatakan hampir tidak ada lagi jejak pande atau pun empu keris di Bangka Belitung, hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut)

Keris Penyalang adalah keris eksekusi (executioners kris), karena pada zaman dahulu keris penyalang digunakan sebagai alat eksekusi hukuman mati bagi kaum "aristokrat" yang bersalah dan dijatuhi hukuman mati, cara pengeksekusiannya adalah dengan menikamkan keris penyalang ini secara vertikal (kebawah) melalui celah tulang selangka (collar bone) sampai mengenai jantung dan perut;
(Foto diambil dari internet)

Kembali kepada Keris Penyalang Koleksi Museum Tanjungpandan, sayang sekali saya belum mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana rupa bilahnya, untuk mencari tahu tipe dhapur apa dan jenis pamor apa keris penyalang tersebut, timbul pula pertanyaan darimanakah asal muasal keris Penyalang di Museum Tanjungpandan ini, bagaimanakah riwayatnya?, apakah keberadaannya di Belitung dengan status didatangkan dari Bangkinang atau buatan lokal (sebagaimana yang disinyalir dalam ensiklopedi keris diatas?), pertanyaan selanjutnya apakah keris penyalang yang ada di museum tersebut awalnya dahulu milik orang pribadi, atau milik seseorang yang karena jabatannya dalam suatu kekuasaan/kerajaan di Belitung, memiliki wewenang untuk menerapkan hukum yang berlaku kala itu, mengingat keris Penyalang ini adalah keris eksekusi, pertanyaan selanjutnya kalau betul keris penyalang ini dahulunya sebagai alat eksekusi atau dengan kata lain merupakan properti dari subjek atau lembaga kekuasaan kala itu di Belitung, lantas milik kerajaan mana keris Penyalang ini? Pernahkah ada catatan sejarahnya di Belitung pelaksanaan eksekusi seperti ini (mengingat kerisnya ada), entahlah.. dari soal keris ini saja menimbulkan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang masih sulit dicari jawabannya dan entah sampai kapan baru dapat terungkap. Tetap semangat! Salam Budaya.


Jumat, 03 November 2017

Beberapa bilah tradisional Belitung

Selain membahas mengenai berbagai senjata pusaka yang ada di Belitung, yang sarat dengan muatan sejarahnya, disini juga kita perlu untuk melihat bilah-bilah tradisional Belitung, yang dari dulu sampai saat ini masih eksis keberadaannya dan terus dibuat oleh para pande besi di Belitung;

dari kiri-kanan : Parang Badau/Parang Belitung, Parang Penabur sedang, Parang Penabur panjang (nama penabur sendiri, jujur saja baru-baru ini saya mendengar nama tersebut dari keterangan seorang pande besi di Desa Badau, yang akrab dipanggil Pak Sam, menariknya baik itu dari segi nama maupun bentuknya memang tidak begitu berbeda dengan parang nabur Banjar seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, adakah kesamaan ini merupakan indikasi adanya pengaruh budaya Banjar dalam perbilahan di Belitung? pertanyaan ini nampaknya tidak mudah untuk kita cari jawabannya), parang penabur biasa digunakan untuk menebas semak belukar, yaitu untuk membuka kebun, bentuknya yang cukup panjang dan ringan, membuat pekerjaan menebas belukar tidak cepat bikin capek, karena posisi tubuh tidak perlu terlalu membungkuk;

Bilah Lading, yang sedang dalam proses penyepuhan, lading biasanya digunakan pada saat berburu, yaitu untuk menyembelih hasil hewan buruan, berupa kijang ataupun rusa yang dulu masih banyak terdapat di pulau Belitung;

Parang Badau, yang biasa digunakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari dirumah atau dikebun, bentuk bilahnya yang khas, yaitu tidak terlalu panjang dan melebar dibagian ujung sehingga berat bilah tertumpu dibagian ujung bilah, hal ini akan membantu momentum tebasan, sehingga tebasan lebih bertenaga dan efektif, tanpa harus mengeluarkan tenaga lebih kuat, bilah parang badau sangat cocok dan nyaman untuk "chopping";