Jumat, 19 Oktober 2018

Menelisik lebih jauh Keris Panjang Belitung

Didalam artikel yang saya tulis hampir setahun yang lalu, yaitu tentang koleksi Keris Penyalang di Musium Tanjungpandan saya sempat menyinggung akan adanya kemungkinan Keris Made in Belitung pada masa lalu, yaitu menyitir dari kutipan Paragraf pada Ensiklopedia Keris karangan Bambang Harsrinuksmo.

Waktu berjalan, sampai pada akhirnya dari diskusi dengan sahabat Wahyu Kurniawan, didapati informasi sejarah yang mengkonfirmasi dugaan akan pernah adanya pembuatan keris pada masa lalu di Belitung, yaitu dari Tulisan Cornelis De Groot yang merupakan salah seorang pioneer penambangan timah Biliton Maatschaapij, yang menyebutkan bahwa orang Belitung (blitongees) juga memiliki keris panjang sebagai senjata mereka, yaitu bilahnya berkisar 44cm.
Senada dengan yang diutarakan oleh Bambang Harsrinuksmo diatas, Keris Penyalang atau Keris Bangkinang karena kepopulerannya pada masa lalu, kemudian "ditiru" oleh pembuat keris di Bangka dan Belitung dengan ukuran yang lebih pendek dari keris serupa yang dibuat di Bangkinang.

Ukuran Panjang dan Pendek memang relatif, jika Bambang Harsrinuksmo menyebut lebih pendek, itu karena perbandingannya adalah keris penyalang (bahasan tersebut ia singgung dalam artikel keris penyalang dalam ensiklopedia-nya), yang notabene bilah keris Penyalang rata-rata adalah 50an cm, sedangkan Corn De Groot diatas mengatakan panjang oleh karena ia membandingkan dengan keris-keris Jawa yang lebih dulu dikenalnya, yang notabene memiliki bilah rata-rata 35cm (De Groot sebelum bertugas di Belitung, lama bertugas di Surabaya dan seputaran Jawa Timur)

Diatas saya memberi tanda petik pada kata "ditiru", karena kesannya adalah seperti Plagiat, ada sedikit keterangan yang dapat memberi gambaran soal ini, yaitu dari catatan John Francais Loudon, selaku kepala Tim Eksplorer perusahaan Penambangan Timah di Belitung, ia didalam diary-nya ternyata juga menyinggung sedikit soal Keris di Belitung, yaitu semasa di Belitung ia memiliki sebuah keris panjang yang diberi oleh seorang bernama Ince/Encik Umar, keris tersebut menurut Loudon adalah buatan Encik Umar sendiri, diterangkannya pula bahwa Encik Umar adalah seorang perantauan dari Lingga. Nah, Lingga disini tak lain adalah sebuah pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Riau, yang pada masa lalu pernah menjadi Ibukota Kesultanan Melayu Johor, yaitu di Daek Lingga. Jadi kembali kepada frasa meniru tadi, maka sebenarnya Keris Penyalang yang dibuat di Belitung ini adalah pada awalnya dibuat oleh perantauan dari tempat asal keris tersebut, yaitu Riau dan Kepulauan Riau, yang dianggap sebagai Homebase nya pembuatan Keris model Penyalang atau Bangkinang ini.

Lantas apakah Keris Panjang Belitung yang mengadopsi model Keris Bangkinang atau Penyalang tsb memiliki kekhasan tersendiri dibanding keris-keris model serupa yang tersebar diseantero tanah melayu?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas perlu untuk kita ketahui bahwa keris Bangkinang atau Penyalang, persebaran atau pembuatannya hampir tersebar diseluruh tanah Melayu, yaitu pesisir Sumatera, Semenanjung Malaya, Kepulauan di Selat Melaka dan pesisir utara dan Barat Kalimantan. Ada sedikit variasi soal panjang pendeknya bilah, jika bilahnya diatas 40cm ia dianggap keris Penyalang, walaupun kebanyakan Keris Penyalang apalagi yang dibuat di Bangkinang bilahnya rata-rata 50-an cm, dikatakan Penyalang adalah karena Keris tsb dipergunakan untuk aktifitas menyalang atau mengeksekusi narapidana pada masa lalu, sebagaimana yang telah saya bahas pada artikel terdahulu, selanjutnya apabila keris serupa memiliki bilah dibawah 40cm sampai minimal 30cm maka disebut keris alang atau yang lebih populer pada masa lalu disebut keris bahari, karena banyak dipakai oleh para pelaut melayu, apabila bilahnya dibawah 30cm maka disebut keris anak alang.

Keris Penyalang, Alang/Bahari dan Anak Alang, pada dasarnya memiliki karakteristik bilah yang serupa, yaitu berdapur lurus atau luk satu, memiliki gandik yang polos, memakai grenengan yang khas yaitu dari bagian ganja sampai naik sedikit ke bagian sor-soran, dibagian sor-sorannya seringkali terdapat pijetan, bilahnya polos saja tanpa bagian ada-ada dan lis-lisan. Keris Penyalang kebanyakan tidak berpamor atau istilahnya kelengan saja, akan tetapi bilahnya kebanyakan tetap dibuat dengan sistem tempa lipat, bahkan ada yang tempa lipatnya sangat rapat dan banyak, atau yang disebut bilah hurap, sebagaimana keris-keris kelengan kuno di Jawa. Sandangan atau pakaian keris Penyalang kebanyakan adalah memakai warangka bahari atau sampir bahari yang bentuknya seperti bulan sabit atau kalau dijawa disebut dengan warangka Wulan Tumanggal (pertama kali sampir model wulan tumanggal ini diperkenalkan pada era Kesultanan Demak), akan tetapi banyak juga saya temui keris-keris bahari dan anak alang yang menggunakan warangka khas daerah tertentu, misalnya model Palembang, model minangkabau, atau model melayu Semenanjung.

Kembali pada pertanyaan diatas? Apakah yang dibuat di Belitung khas? Sepanjang pengamatan saya 99 persen bentuk maupun ricikan bilah kerisnya adalah sama dengan keris penyalang, bahari maupun anak alang, dari sandangannya pun relatif sama, namun cenderung lebih polos dari berbagai ukiran pada hulu atau gagangnya, tidak seperti keris-keris serupa yang dibuat didaerah lain (yang cenderung memiliki ukiran-ukiran). Mungkin perbedaan yang lebih ditekankan sebagaimana yang disinggung didalam Ensiklopedia Keris adalah soal ukuran panjang bilah yang menurut Bambang Harsrinuksmo sedikit lebih pendek dibanding buatan Bangkinang, hal yang sama juga banyak berlaku diwilayah Melayu lain yang bahkan membuat keris ini dengan bilah yang lebih pendek lagi (keris Bahari dan anak alang).

Singkat kata saya berkesimpulan Keris model penyalang yang dibuat di Belitung tidak memiliki kekhasan tertentu dibanding keris-keris sejenis yang dibuat diwilayah lain, mungkin juga timbul pertanyaan apakah keris model ini dipergunakan untuk aktivitas menyalang pada masa lalu di Belitung? Saya belum menemukan satupun catatan sejarah bahkan sekedar folklore yang menceritakan pernah dilakukannya aktifitas menyalang dengan keris model begini, didalam catatan Corn De Groot disebutkan bahwa keris panjang ini seringkali dipergunakan orang Belitung saat menghadiri acara pesta, jadi menurut hemat saya keris panjang ini lebih digunakan sebagai ageman atau kelangkapan berpakaian orang Belitung pada masa lalu (cara memakai keris panjang adalah cukup dipegang saja, belum pernah saya melihat orang melayu menyelipkan keris penyalang dipinggang atau diperut, terkecuali keris bahari atau anak alang serta keris-keris melayu pada umumnya, yang notabene berukuran "standard" keris), namun selain sebagai ageman, oleh karena pada dasarnya bilah keris ini adalah bilah senjata tajam maka tentunya keris memiliki "sisi" fungsional sebagai senjata.

overall, apapun itu, dari pembahasan keris panjang Belitung, kita patut bersyukur bahwa ternyata Belitung dimasa lalu mengenal budaya perkerisan, yaitu hasil influence dari para perantauan melayu khususnya dari Kepulauan Riau (yang kemudian membaur menjadi penduduk Belitong), sepatutnya fakta yang terungkap ini menjadi kajian yang lebih mendalam, untuk pelestarian atau lebih tepatnya menghidupkan kembali budaya perkerisan, khususnya Keris Panjang Belitung, semoga!!!

Salam Budaya.

Berikut foto-foto keris panjang yang menjadi Koleksi TropenMuseum Belanda





Tidak ada komentar:

Posting Komentar