Jumat, 03 November 2017

Beberapa bilah tradisional Belitung

Selain membahas mengenai berbagai senjata pusaka yang ada di Belitung, yang sarat dengan muatan sejarahnya, disini juga kita perlu untuk melihat bilah-bilah tradisional Belitung, yang dari dulu sampai saat ini masih eksis keberadaannya dan terus dibuat oleh para pande besi di Belitung;

dari kiri-kanan : Parang Badau/Parang Belitung, Parang Penabur sedang, Parang Penabur panjang (nama penabur sendiri, jujur saja baru-baru ini saya mendengar nama tersebut dari keterangan seorang pande besi di Desa Badau, yang akrab dipanggil Pak Sam, menariknya baik itu dari segi nama maupun bentuknya memang tidak begitu berbeda dengan parang nabur Banjar seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, adakah kesamaan ini merupakan indikasi adanya pengaruh budaya Banjar dalam perbilahan di Belitung? pertanyaan ini nampaknya tidak mudah untuk kita cari jawabannya), parang penabur biasa digunakan untuk menebas semak belukar, yaitu untuk membuka kebun, bentuknya yang cukup panjang dan ringan, membuat pekerjaan menebas belukar tidak cepat bikin capek, karena posisi tubuh tidak perlu terlalu membungkuk;

Bilah Lading, yang sedang dalam proses penyepuhan, lading biasanya digunakan pada saat berburu, yaitu untuk menyembelih hasil hewan buruan, berupa kijang ataupun rusa yang dulu masih banyak terdapat di pulau Belitung;

Parang Badau, yang biasa digunakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari dirumah atau dikebun, bentuk bilahnya yang khas, yaitu tidak terlalu panjang dan melebar dibagian ujung sehingga berat bilah tertumpu dibagian ujung bilah, hal ini akan membantu momentum tebasan, sehingga tebasan lebih bertenaga dan efektif, tanpa harus mengeluarkan tenaga lebih kuat, bilah parang badau sangat cocok dan nyaman untuk "chopping"; 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar