Sabtu, 20 Oktober 2018

Suasana di Jl. Depati Rahad tempoe doeloe


Rumah dalam foto diatas berlokasi di Jalan Depati Rahad, kelurahan Kota, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, tepatnya di RT 07 RW 09. Foto diambil sekitar tahun 1950an.

Adalah Rumah Kiagus Muhammad Said (Alm), yaitu Ramonda-nya/ayah dari Kiagus Bustami (Alm), yang di era tahun 70an pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tk II Belitung. Beliau adalah cicit dari Kiagus Muhammad Saleh (Depati Cakradiningrat 9). Rumah ini sekarang sudah tiada, letak tepatnya sekarang kira-kira persis disamping Toko Iwan Cis, yang banyak menjual tanaman hias Bonsai di serambi toko dan rumahnya, berhadapan/diseberang Mesjid Jamik Al-Mabrur Tanjungpandan (Foto ini masih tersimpan dirumah Bang Iwan dan Rumah Mak Sot, yang letaknya berdekatan).

Menurut penuturan Mak Sot, yaitu anak dari Kiagus Bustami (Alm), dari hasil wawancara penulis, beliau menceritakan bahwa rumah orang tuanya tersebut terakhir berdiri sekitar awal tahun 1960an, kemudian karena sudah uzur termakan usia, rumah tersebut dirubuhkan, diganti dengan bangunan baru, yang mengadopsi model lebih kekinian kala itu. 

Rumah panggung model diatas adalah rumah terakhir yang berdiri dan masih sempat terdokumentasikan, sebelumnya dari penuturan tetua-tetua dikampung Rahad, jaman dulu rumah-rumah di Jalan Rahad (dulu dijaman Belanda disebut Gang Depati) kebanyakan menganut model rumah panggung tinggi yang kurang lebih serupa dengan rumah dalam foto tersebut.

Kampung Rahad pada jaman dahulu dikenal dengan sebutan kampong Raje oleh masyarakat Belitung, namun tetua-tetua kampung Rahad lebih familiar dengan sebutan Kampung Ume, dalam berbagai informasi sejarah yang tercatat, diantaranya dari catatan diary para eksplorer Timah diketahuilah, yang bermukim awal di wilayah tersebut adalah Kiagus Muhammad Saleh atau Depati Cakradiningrat ke 9 (Depati Belitong terakhir, meninggal pada tahun 1876 bermakam di Cerucuk, komplek pemakaman "kota" tanah) beserta keluarga dan pengikutnya, yaitu dikatakan pemukimannya berada ditepian Air Beruta', Air Beruta' adalah Sungai kecil yang sampai sekarang masih mengalir persis di sebelah Bank BPR Syariah Babel, Jl. Jend Sudirman. Adapun Kakanda dari Kiagus Muhammad Saleh yaitu Kiagus Rahad atau Depati Cakradiningrat ke 8 (meninggal 1854 bermakam di Air Labu Kembiri) bermukim berapa Kilometer dari Kampung Ume ini, yaitu diarah ke Jalan Bukit di sekitaran Bukit Kecil yang dahulu terletak Hotel Dian (dijaman Belanda diatas bukit terdapat Benteng Kuehn).

Kembali ke model rumah panggung diatas, oleh para pemerhati Budaya Belitong dikatakan bahwa Rumah Panggung dengan model yang cukup tinggi tersebut adalah model rumah Bangsawan atau Ningrat Belitung pada masa lalu, yaitu anak tangganya lebih dari tiga, sedangkan rumah panggung tradisional masyarakat pada umumnya, anak tangganya maksimal tiga.

Pada tahun 2009, Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung, di zaman Bupati Ir. Darmansyah Husein meresmikan Rumah Panggung dengan mengambil model rumah Panggung Tradisional ala Bangsawan Belitong Tempo dulu sebagaimana diatas, yang kemudian oleh Pemerintah Daerah dijadikan ikon Rumah "adat" Belitung. Letaknya di Jalan A. Yani Tanjungpandan, bersebelahan persis dengan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Belitung. Sekian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar