Kamis, 02 November 2017

Koleksi Sundang di Museum Tanjungpandan

Foto Kedua dari kiri (yang dibaringkan) adalah koleksi Sundang di Museum Tanjungpandan (foto by Yanto).

Foto-foto lainnya dari Koleksi Sundang di Museum Tanjungpandan (foto by Viqie)




Sundang, yang pada bangsa Moro disebut juga Kalis, adalah senjata sejenis keris yang berasal dari Filipina Selatan, yaitu suku bangsa Moro berikut sub sukunya (Maguindanao, maranao, Illanun/Iranun, Tausug (sulu) dll), dalam perjalanannya kemudian Sundang cukup tersebar penggunaannya di Suku Bangsa Melayu, baik itu Melayu di semenanjung Malaya, Sumatera, maupun Kalimantan (Di Sabah, kalimantan bagian utara, banyak suku Iranun yg telah berdiam berabad-abad, walaupun asal nenek moyang mereka dari Kepulauan di Filipina Selatan)


secara fisik Sundang berukuran jauh lebih besar dari keris pada umumnya, bilahnya lebar, tajam kedua sisi sebagaimana keris, panjang bilahnya biasanya diatas 50cm, memiliki ganja/gonjo (dalam istilah tausug disebut katik) sebagaimana keris, akan tetapi sundang biasanya memiliki semacam pengikat antara gonjo dan bilahnya yang disebut asang-asang, sundang sebagaimana juga keris ada yang dibuat lurus, ada yg dibuat berluk-luk (yang jumlahnya selalu ganjil), penggunaan Sundang adalah sebagaimana pedang, tidak seperti keris yang lebih ramping dan lancip yang penggunaannya adalah sebagai penikam (dagger), selain itu perbedaan lainnya dengan keris pada umumnya adalah bilah sundang sebagaimana bilah-bilah senjata lainnya asal Filipina Selatan, bilahnya tidak disepuh/dituakan sehingga bilah terlihat muda warnanya (lebih cerah), jarang pula menunjukkan pola-pola lipatan pamor yang umumnya ada pada keris, namun secara umum dengan segala perbedaannya tersebut Sundang masih dianggap sebagai keluarga keris;

Khusus untuk di pulau Belitung, setahu saya Sundang sangat langka keberadaannya, di Museum Tanjungpandan hanya terdapat dua, dengan kondisi sudah tidak bersarung, hal ini perlu ditelusuri darimana dulu Museum Tanjungpandan memperoleh koleksi Sundang tersebut, kalau merupakan pemberian atau hibah dari seseorang, siapa orangnya, masih adakah dokumen terkait penyerahan tersebut? hal ini penting untuk mengetahui jejak sejarah bangsa Iranun di Pulau Belitung, karena Sundang adalah penanda jejak keberadaan mereka di masa lampau di Belitung, di Tanjungpandan sendiri setahu saya ada komunitas yang mengaku masih keturunan dari bangsa Iranun, akan tetapi setahu saya tidak ada diantara mereka yang masih menyimpan sundang sebagai pusaka warisan keluarga, saya sendiri pernah menemukan sebuah Sundang yang disimpan oleh seorang Kolektor di Tanjungpandan, saya sempat bertanya mengenai asal muasal Sundang yang ada padanya, apakah dari warisan keluarga turun temurun? ternyata ia mengatakan Sundang tersebut diperolehnya dari saudaranya yang mendapatkannya sewaktu merantau di Kalimantan Barat;

(Foto bersama sebilah Sundang, milik seorang kolektor di Tanjungpandan, Sundang tsb menurut pengakuannya diperoleh dari Saudaranya yang mendapatkan Sundang tsb di Kalimantan Barat)

Cerita turun temurun yang berkembang di masyarakat Belitung tentang Suku Iranun alias Lanun adalah sangat populer, beberapa waktu yang lalu bahkan ada beberapa orang suku Iranun dari Sabah Malaysia, yang datang berkunjung ke Belitung, hendak mencari jejak keluarga keturunan Iranun yang ada di Pulau Belitung, sempat diadakan semacam seminar kecil di Hotel Grand Hatika Tanjungpandan dengan dihadiri komunitas yang mengaku masih keturunan Suku Iranun, bahkan Bupati Belitung saat ini, yaitu Bapak Sahani Saleh mengaku bahwa beliau sendiri keturunan Suku Iranun, akan tetapi sebagaimana yang telah saya singgung diatas, tidak ada lagi anak keturunan suku Iranun di Belitung yang masih menyimpan benda pusaka baik itu senjata ataupun lainnya yang merupakan benda khas Suku Iranun, tarohlah seperti Sundang, Kampilan, Barong, Panabas dll sebagainya;

Jejak Sejarah Suku Iranun di Belitung ini, perlu untuk mendapat penelitian lebih lanjut, bagaimana kisahnya sampai mereka yang berasal dari wilayah yang jauh tersebut pada jaman dahulu dapat tersebar sampai ke Kepulauan Bangka-Belitung? sepanjang bacaan Sejarah yang pernah saya baca, di akhir abad 18 yaitu di masa Kesultanan Johor dibawah Sultan Mahmud Syah III, saat itu beliau pernah meminta pertolongan kepada Raja di Tempasuk, Sabah. (Kerajaan dari Suku Iranun) untuk membantu menghalau pasukan Belanda yang telah menduduki Tanjungpinang, kemudian datanglah pasukan besar suku Iranun membantu Kesultanan Johor tersebut dan atas bantuan pasukan Iranun dari Tempasuk ini, Belanda berhasil diusir dari Tanjungpinang, setelah itu Sultan Mahmud Syah III memindahkan kekuasaannya ke Daek Lingga, sebagian pasukan Tempasuk tersebut ada yang tidak kembali ke kampung halamannya, akan tetapi terus berdiam Lingga, mengabdi kepada Kesultanan Johor, mereka menikah dengan penduduk setempat dan terjadi asimilasi dengan budaya Melayu setempat. Kembali ke Pulau Belitung, dari komunikasi saya dengan beberapa orang yang mengaku masih keturunan bangsa Iranun tersebut, mereka mengatakan dari cerita turun temurun keluarga bahwa nenek moyang mereka adalah berasal dari Daek Lingga, lantas apakah puak keturunan Iranun di Belitung ini adalah cucu cicit dari pasukan Tempasuk dahulu?? menarik untuk diteliti lebih lanjut;

https://ms.wikipedia.org/wiki/Sultan_Mahmud_Shah_III
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Johor
http://www.pulaulingga.com/kampil-dan-jejak-bangsa-iranun-di-lingga/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar